Buku Informatika SMA

Pendidikan diakui sebagai hal paling fundamental dalam penyusunan masa depan, termasuk di dalamnya pendidikan IT dan seluruh turunannya. Tentu pendidikan terbaik adalah lifetime learning: proses belajar sepanjang hayat yang selalu relate dengan kehidupan kemanusiaan sehari-hari, dilakukan lewat interaksi yang kaya konteks. Namun, pada titik tertentu, kita tetap harus merumuskan secara formal apa saja yang harus disampaikan untuk bidang fokus kita, lengkap dengan strategi penyampaian yang paling efektif.

Melihat aktivitasku yang gemar menulis, memberikan pelatihan, serta sharing di berbagai forum lintas level; termasuk forum IEEE, CIMA, ruang kuliah di kampus beberapa negara, interaksi dengan sekolah berbagai pulau, plus diskusi taktis di lembaga riset dan institusi pemerintahan, tempat aku sering memadukan aspek filosofis dan praktis seputar informatika dan transformasi digital; penerbit Erlangga memintaku untuk menyusun buku teks informatika yang dikhususkan untuk segmen SMA.

Dengan tawaran semacam itu, memoriku malah melayang ke Jean-Paul Sartre dan Jacques Derrida, para filsuf pujaan Gen-X yang mengawali karier akademis dan filsafat mereka bukan di kampus tetapi justru sebagai guru di lycée (SMA). Justru di sana mereka bisa menyusun pola komunikasi yang paling efektif langsung ke jiwa-jiwa yang sedang berada di fase paling terbuka, paling filosofis, sekaligus paling dinamis. Dengan pikiran lucu semacam itu, aku menerima privilege ini dengan antusias. Etapi kapan sih aku pernah gak antusias?

Yang dibuat ini adalah serial buku informatika, dirancang exactly untuk usia remaja yang sedang haus-hausnya akan bacaan yang bersifat filosofis, strategis, sekaligus teknis. Buku ini bukan untuk mahasiswa yang sudah harus sangat serius mendalami satu bidang pilihan spesifik, bukan untuk profesional yang dituntut bergerak cepat di tataran taktis industri, dan bukan untuk orang awam yang sekadar mengisi waktu luang demi menambah kemahiran tanpa target waktu. Buku ini berada di ruang transisi yang sangat krusial. Penulisannya memanfaatkan waktu libur yang tahun-tahun ini rasanya banyak sekali, memanfaatkan tumpukan bahan yang sudah cukup lama aku dalami di bidang ini, plus diperkaya dengan berbagai diskusi. Prosesnya ternyata lama :). Namun akhirnya, rangkaian buku Informatika untuk Kelas X, XI, dan XII ini resmi terbit bulan ini.

Isinya? Ya, bisa ditebak, khas gaya aku. Pembahasan dimulai dari akar sejarah dan filosofi informatika, lalu masuk ke pemahaman tentang komputer beserta cara kerjanya. Dari sana, kita belajar berbincang dengan komputer melalui bahasa pemrograman, serta memahami bagaimana memecahkan masalah besar lewat sistematika berpikir (computational thinking) demi meningkatkan efektivitas solusi.

Kita juga membedah cara pengolahan data secara substansial tanpa harus ketergantungan pada tools tertentu. Kita akan melihat bagaimana algoritma disusun oleh manusia (programming), hingga bagaimana kita bisa menyuruh komputer untuk belajar membuat algoritmanya sendiri, mulai dari yang sederhana (machine learning) sampai ke tahap yang membuat kita sendiri pusing memikirkannya (deep learning), sehingga menuntut pemanfaatan berbagai model yang dikembangkan secara kolaboratif (AI). Aspek logika, etika, cybersecurity, hingga pemahaman atas konteks dan kesisteman terus didetailkan secara bertahap dari kelas X hingga XII. Jadi, buku ini sebenarnya mirip sebuah model mentoring untuk menjadi profesional di dunia digital; sebuah karya yang disusun oleh profesional untuk membentuk generasi profesional berikutnya

Serial buku ini memiliki keunikan kontras yang sengaja aku injeksikan ke dalam materi Kelas X hingga XII, yang kemudian disempurnakan secara luar biasa oleh tim Erlangga.

Filosofi Materi

  • Informatika sebagai Struktur Berpikir (Computational Thinking): Di era saat AI bisa menulis kode dalam hitungan detik, kemampuan teknis murni yang sifatnya hafalan akan sangat cepat usang. Buku ini menekankan Computational Thinking sebagai fondasi utamanya. Siswa diajak memahami mengapa sebuah struktur data dipilih, bagaimana mendekomposisi masalah yang kompleks menjadi bagian-bagian kecil, dan bagaimana mengenali pola di tengah kekacauan informasi. Ini adalah latihan logika dan ketajaman mental.
  • Menjinakkan Kompleksitas lewat Kacamata CAS (Complex Adaptive Systems): Kita tidak bisa lagi mengajarkan IT secara linear dan kaku. Dunia digital saat ini digerakkan oleh sistem yang saling terhubung, dinamis, dan adaptif. Oleh karena itu, perspektif kesisteman dan CAS diperkenalkan secara elegan. Dari logika dasar, kita melompat ke pemahaman bagaimana data besar dikelola, hingga puncaknya di Kelas XII di mana siswa diajak memahami bagaimana machine learning dan deep learning bekerja. Kita membedah peralihan radikal dari algoritma yang dibuat manusia beralih ke bagaimana manusia “melatih” komputer agar bisa melahirkan algoritmanya sendiri secara kolaboratif.
  • Sentuhan Filosofis dan Etis: Teknologi tanpa arah filosofis dan etika adalah hal yang berbahaya. Di setiap akhir pembahasan besar, siswa selalu diajak merefleksikan aspek sosial, hukum, dan etika dari teknologi yang mereka pelajari. Bagaimana dampak privasi di era Big Data? Apa tanggung jawab moral seorang programmer saat merancang algoritma AI? Buku ini menantang kedewasaan berpikir kita untuk melihat teknologi dari kacamata kemanusiaan.

Sentuhan Edisi Spesial Erlangga

  • Tata Letak Kaya Warna & Ilustrasi Estetis: Kita tidak akan menemukan halaman penuh teks monokrom yang membosankan. Buku ini didesain penuh warna (full color) dengan infografis modern dan ilustrasi fungsional. Setiap visual dirancang untuk menjelaskan konsep abstrak, seperti aliran data jaringan, arsitektur komputer, atau cara kerja model pembelajaran mesin, dengan cafa yang intuitif dan hidup.
  • Model Evaluasi dan Pengembangan Komprehensif: Tim pengembang Erlangga menyuntikkan standar evaluasi kurikulum terbaru yang sangat matang. Model asesmen di dalam buku ini tidak sekadar menguji hafalan, melainkan menantang kemampuan analisis tingkat tinggi siswa melalui studi kasus nyata, proyek kolaboratif, dan pemecahan masalah sistemik untuk melatih mereka berpikir sebagai praktisi sejak dini.

Siapa Yang Bisa Baca

Walau sasaran utamanya adalah siswa SMA/MA, buku ini dirancang dengan fleksibilitas narasi yang membuatnya sangat layak dinikmati oleh segmen yang lebih luas, termasuk:

  • Para Pengajar, Guru, dan Dosen Muda: Bagi kita yang mencari perspektif baru tentang bagaimana cara menyampaikan materi informatika yang tidak membosankan, kaya konteks, dan mampu memantik diskusi kritis di kelas.
  • Mahasiswa Tingkat Awal (IT maupun Non-IT): Mahasiswa non-IT yang ingin mendapatkan pemahaman komprehensif tentang teknologi tanpa tersesat dalam jargon teknis yang rumit, serta mahasiswa IT tingkat awal yang membutuhkan big picture atau peta jalan filosofis sebelum mereka menyelami dunia coding yang super intens.
  • Orang Tua yang Ingin Menjadi Teman Diskusi Anaknya: Para orang tahu yang ingin memahami dunia digital tempat anak-anak kita tumbuh, sehingga mampu memberikan arahan strategis dan menjadi rekan diskusi yang sepadan di rumah mengenai masa depan teknologi.
  • Peminat Literasi Digital yang Serius tapi Santai: Siapa saja di antara kita yang memiliki rasa ingin tahu tinggi terhadap teknologi, AI, sistem kompleks, dan masa depan digital, yang menyukai bacaan berbobot namun disajikan dengan mengalir, reflektif, dan tidak intimidatif.

Tujuannya memang untuk siswa SMA. Tapi untuk kita yang suka membaca bacaan informatika secara serius tapi santai, kita sangat diundang untuk ikut membaca buku ini. Yuk kita siapkan generasi profesional berikutnya dengan fondasi yang kokoh, adaptif, dan tetap memanusia.

More info: Informatika.AI

Faust (Lagi)

Pada masa awal blog ini, cukup banyak tulisan tentang Faust dari Goethe [URL], khususnya tentang kehendak dan perjuangan manusia melawan kejumudan walaupun harus mempertaruhkan banyak hal yang di luar kuasanya. Kita kenang lagi, bagian awal tulisan Goethe ini tentang Faust.

MEPHISTOPHELES
Tuhan … datang lagi aku menyapa.
Engkau pun sudi melihat hamba hina.
Namun maaf, hamba tiada bahasa
Setinggi para pemuja cahaya.

Mereka bicara soal dunia dan bintang;
Aku hanya tahu manusia malang.
Si kerdil yang sok jadi dewa berakal,
Tapi justru lebih buas dari binatang.

Dengan nalar anugerahmu ia pongah,
Lalu memuja hasratnya yang rapuh.
Buatku, ia cuma belalang panjang,
Lompat-lompat, lalu jatuh ke kotoran.

TUHAN
Dan hanya itu yang kau bawa lagi?
Tak pernahkah kau lihat kebaikan di bumi?

MEPHISTOPHELES
Tidak, Tuhan. Dunia masih menyedihkan.
Aku bahkan nyaris kasihan.

TUHAN
Kau kenal Faust?

MEPHISTOPHELES
Si Doktor?

TUHAN
Hambaku, tentu.

MEPHISTOPHELES
Ia berbakti dengan cara aneh.
Tak makan minum, hanya resah.
Mendamba bintang dan kemuliaan,
Namun hatinya tak pernah tenang.

TUHAN
Meski ia tersesat dan kabur,
Akan Kuantar ia pada fajar yang jernih.
Seperti tukang kebun memandang tunas,
Kujaga benih yang kelak berbunga.

MEPHISTOPHELES
Tak ada buktinya. Biar kucoba raihnya.
Asal kauserahkan ia padaku,
Kan kubawa dia lewat jalanku.

TUHAN
Sepanjang ia hidup di dunia,
Kubiarkan kau mencobanya.
Selama manusia ingin dan rindu,
Ia tak luput dari kesalahan itu.

MEPHISTOPHELES
Terima kasih! Tubuh fana bukan urusanku.
Darah segar jauh lebih menyenangkan.
Saat orang mati mendekat pintuku,
Seperti kucing, kututup rapat kandang.

Faust dan Mephistopeles

TUHAN
Jebaklah sesukamu.
Tarik menjauh dari nuraninya.
Namun bersiaplah menjadi saksi,
Manusia tetap setia pada jalan sejati
Meski sering tersembunyi arahnya.

MEPHISTOPHELES
Sepakat! Ini perjanjiannya:
Kalau aku menang, biar kubanggakan:
Ia akan makan debu dengan girang,
Seperti ular tua, kerabatku yang sopan.

TUHAN
Pergilah—aku tak benci tantangan.
Iblis sepertimu tak banyak mengganggu.
Jiwa manusia lekas jenuh dan bosan,
Maka kuberi ia penggoda sepertimu.
Kau paksa ia bergerak, berpikir, mencipta,
Dan justru karena itu, ia akan berkembang.

Namun para putra cahaya,
Nikmatilah keindahan yang tak binasa.
Kekuatan cipta yang abadi menari
Merangkul kalian dalam cinta sejati.
Apa pun yang samar dan ragu di dunia
Tetap kalian abadikan dalam makna.

Citadelle

« L’homme ne vit pas de liberté, mais de la signification de la liberté. » — Hal yang terpenting dari kebebasan, seberapapun terbatasnya, adalah makna besar yang dapat kita ciptakan dan kerjakan dengan dengan kebebasan itu.

Dengan teks itu, Antoine de Saint-Exupéry menghantam jantung ilusi zaman modern tentang kebebasan yang diperoleh seolah hanya sebagai kebesaran. Kebebasan justru menguakkan ruang kosong yang menuntut pengisian dengan nilai, pengorbanan, dan keberanian untuk hidup demi sesuatu yang lebih tinggi dari diri sendiri. Dan ruang ini, Citadelle dituliskan — bukan sebagai manifesto politik atau risalah filsafat, melainkan refleksi manusia yang berusaha mendirikan makna.

Risalah ini ditulis dalam bentuk catatan-catatan pribadi yang berserak. Citadelle adalah teks yang belum selesai, namun justru karenanya ia menjadi refleksi yang hidup dan bergerak — belum dibekukan oleh kerangka dan metode. Setelah Saint-Exupéry gugur dalam misi pengintaian pada 31 Juli 1944, fragmen-fragmen ini disusun dan diterbitkan secara anumerta pada 1948. Dalam bahasa Inggris, buku ini diterjemahkan dengan judul The Wisdom of the Sands.

Buku ini disuarakan dari seorang pangeran tua yang merenungi tugas, iman, penderitaan, dan martabat manusia, berbicara kepada generasi yang haus arah tetapi kehilangan sandaran. Pangeran, memandang kepemimpinan bukan sebagai penatakelolaan masyarakat. Kepemimpinan adalah soal mendirikan peradaban. Peradaban dibentuk melalui penanaman makna dalam kehidupan bersama. Masyarakat dibentuk melalui keteladanan dan ruang narasi.

Mengapa ruang narasi? Tanpa makna kolektif, masyarakat hanyut dalam kehampaan. Narasi, simbol, artefaks, bukanlah sekedar lambang dan warisan, melainkan menjadi struktur spiritual yang menyatukan manusia, dan menjadi nilai bersama yang mengikat bahkan antar generasi.

Namun proses spiritual sebagai pewujudan nilai justru dilakukan dalam bentuk kerja keras, kerja yang berat, serta dan disiplin, karena dengan itu setiap manusia, setiap individu, dapat menemukan dirinya sendiri. Melalui rasa sakit yang bersifat personal, nilai dan martabat manusia dibentuk, ditegakkan, dan dinilai oleh dirinya sendiri.

Kebebasan, baik secara sistem, kolektif, maupun individual, adalah nilai yang sanagt berharga, sehingga tidak mungkin dihancurkan nilainya dengan kesiasiaan. Kebebasan adalah kemampuan untuk mewujudkan nilai yang lebih tinggi, dan terus menerus diwujudkan dalam bentuk nilai yang lebih tinggi lagi. Maka puncak dari semua ini adalah panggilan untuk mendirikan makna. Dunia tidak hadir begitu saja — ia dibentuk oleh tindakan yang penuh keyakinan dan pengorbanan.

Benteng sejati (citadelle) tidak dibentuk dari batu atau senjata, atau gedung megah dan struktur organisasi yang kuat, tetapi dunia makna yang diciptakan dan ditegakkan didirikan di tengah kekosongan dan keterbatasan.

Lalu, soalan gurun pasir ini mengingatkan kita pada karya lain Saint-Exupéry. Tentu saja Si Pangeran Kecil, yang di tengah gurun, tanpa berputus asa, mendadak berujar: «Ce qui embellit le désert, c’est qu’il cache un puits quelque part.» — Yang menarik dari gurun yang luas ini adalah karena ia menyembunyikan sumur di suatu tempat. Di dunia yang keras, gersang, tak berarah, selalu ada sumur makna yang tersembunyi, menanti digali dengan komitmen, kerja keras, pengorbanan, dan kepemimpinan yang sejati.

Ten Feline Principles

Feline Philosophy: Cats and the Meaning of Life, by John Gray, has accompanied my Catterday. Published in 2020 by Penguin Books, the book is a wry and elegant meditation that contrasts the restless pursuit of meaning in human life with the serene indifference of cats. Rather than anthropomorphising animals, Gray invites readers to view humanity through a feline lens — one that reveals the absurdity of our moral pretensions, the futility of our anxieties, and the possibility of a more graceful existence, precisely by abandoning the need to justify it.

Its last chapter offers a feline-inspired rethinking of how one might live with greater clarity and less delusion: Ten Feline Principles for Living Well.

  1. Never try to persuade human beings to be reasonable — Trying to persuade human beings to be rational is like trying to teach cats to be vegans. Human beings use reason to bolster whatever they want to believe, seldom to find out if what they believe is true.
  2. It is foolish to complain that you do not have enough time — If you think you do not have enough time, you do not know how to pass your time. Do what serves a purpose of yours and what you enjoy doing for its own sake. Live like this, and you will have plenty of time.
  3. Do not look for meaning in your suffering — If you are unhappy, you may seek comfort in your misery, but you risk making it the meaning of your life. Do not become attached to your suffering, and avoid those who do.
  4. It is better to be indifferent to others than to feel you have to love them — Few ideals have been more harmful than that of universal love. Better cultivate indifference, which may turn into kindness.
  5. Forget about pursuing happiness, and you may find it — You will not find happiness by chasing after it, since you do not know what will make you happy. Instead, do what you find most interesting and you will be happy knowing nothing of happiness.
  6. Life is not a story — If you think of your life as a story, you will be tempted to write it to the end. But you do not know how it will end, or what will happen before it does. It would be better to throw the script away. The unwritten life is more worth living than any story you can invent.
  7. Do not fear the dark, for much that is precious is found in the night — You have been taught to think before you act, and this may be good advice. Acting on how you feel at the moment may be no more than obeying worn-out philosophies you have accepted without thinking. But some moments may follow an inkling that glimmers in the shadows. You need to know where it may lead you.
  8. Sleep for the joy of sleeping — Sleeping so that you can work harder when you wake up is a miserable way to live. Sleep for pleasure, not profit.
  9. Beware anyone who offers to make you happy — Those who offer to make you happy do so in order that they themselves may be less unhappy. Your suffering is necessary to them, since without it they would have less reason for living. Mistrust people who say they live for others.
  10. If you cannot learn to live a little more like a cat, return without regret to the human world of diversion

Signals & Boundaries

Buku unik dari John Holland, Signals & Boundaries, memberikan perspektif yang lebih intuitif pada CAS (sistem adaptif kompleks), yaitu dengan menunjukkan bagaimana emergence justru dihasilkan dari interaksi yang bersifat lokal. Menurut Holland, sinyal (yang membawa informasi) dan batas (yang mendefinisikan dan melindungi elemen di dalam sistem) memiliki peran utama dalam pembentukan dan perubahan complex sistem (sistem kompleks). Perspektif ini dapat memudahkan kita memahami bagaimana interaksi lokal yang sederhana dapat menghasilkan pola global yang kompleks.

Pengaruh pandangan ini cukup luas pada komunitas complexity theory, termasuk para akademisi di SFI. Mereka memadukan gagasan Holland ke dalam kerangka yang lebih luas tentang teori jaringan dan modularitas, serta menjembatani model adaptasi yang ada sebelumnya dengan pendekatan komputasional yang lebih modern. Dengan menekankan peran komunikasi melalui sinyal dan pembentukan struktur melalui batas, Holland memberikan konsep praktis untuk analisis dinamika ekosistem, platform teknologi, dan jaringan sosial.

Kekuatan Holland terletak pada ketegasannya menggambarkan bagaimana interaksi lokal dapat menghasilkan emergence pada complex system. Elemen dalam sistem yang berinteraksi akan saling bertukar sinyal, yang berfungsi sebagai feedback loop, yang kemudian akan mendorong adaptasi perilaku serta mempengaruhi elemen di sekitarnya. Batas (boundary) memastikan struktur tetap terjaga dengan isolasi interaksi tertentu dari derau eksternal, sehingga memungkinkan subsistem berkembang secara independen namun tetap terhubung. Keseimbangan antara isolasi dan keterhubungan inilah yang mendorong munculnya pola-pola baru dan adaptasi dalam sistem kompleks, yang mewujud dalam emergence.

Tentunya terdapat kritik juga atas gagasan bahwa kompleksitas secara umum dihasilkan dari interaksi lokal. Fokus eksklusif pada proses bottom-up semacam ini dikhawatirkan dapat mengabaikan peran pengaruh global dan kausalitas top-down. Dalam banyak sistem, batasan yang bersifat menyeluruh, faktor lingkungan, dan dinamika kolektif dapat membentuk pola dan perilaku yang tidak bisa dijelaskan hanya melalui interaksi lokal. Fenomena emergence dinilai dapat juga dipengaruhi kekuatan global.

Lebih ekstrim dari ini, terdapat sudut pandang “strong emergence” yang berpendapat bahwa ada sifat-sifat sistem yang muncul di tingkat makro yang secara mendasar tidak dapat direduksi atau diprediksi dari interaksi komponen dasarnya. Dalam perspektif ini, interaksi lokal belum dianggap dapat menjelaskan fenomena kompleks yang muncul, sehingga ada karakteristik menyeluruh yang memerlukan pendekatan konseptual tersendiri.

Menarik andai dapat dikembangkan model yang menggabungkan interaksi tingkat mikro dengan struktur tingkat makro. Terdapat konsensus di antara peneliti bahwa pendekatan ganda — integrasi perspektif lokal dan global — dapat menjadi kunci memahami kompleksitas secara menyeluruh. Teori network dan dinamika sistem misalnya, menyoroti pentingnya korelasi jarak jauh dan global feedback loop yang melengkapi interaksi lokal. Pendekatan terpadu ini mengakui bahwa meskipun sinyal dan batas sangat penting, interaksi sistemik yang lebih luas juga berperan penting dalam memicu adaptasi dan self-organisation.

Perspektif atas sinyal dan batas dari Holland tentunya tetap merupakan kontribusi yang sangat berpengaruh dalam complexity science, termasuk peluangnya untuk mengenali dan mengembangkan penerapan CAS di berbagai bidang, melalui interaksi terdesentralisasi di tingkat lokal untuk menghasilkan emergence. Namun penting juga untuk menselaraskannya dengan perspektif yang berbeda, termasuk strong emergence dan pengaruh global, agar kita dapat memahami kompleksitas dari kompleksitas (hahaha) secara lebih utuh, termsauk dengan mendorong inovasi dalam cara memodelkan dan mengelola complex system di dunia nyata.

Karakalpakstan (Қарақалпақстан)

Menariknya mengkoleksi hampir 400 buku Pangeran Kecil dalam berbagai bahasa adalah bahwa kita jadi punya sekian ratus bahasa dalam satu rak buku yang kian mirip menara babel. Mengkatalogkannya pun memerlukan dua web: LEPETITPRINCE.ID dalam bentuk peta negara, dan PANGERANKECIL.COM dalam taksonomi rumpun bahasa.

Site lepetitprince.id

Di web kedua ini, bahasa disenaraikan secara luwes: mengikuti hasil riset berbagai linguist yang tentu masih sering beda pendapat, hingga mengikuti kemudahan penyusunan nan pragmatis nian. Hikmah dari penyusunan model rumpun bahasa ini: kita lebih memahami posisi dan keunikan setiap bahasa (i.e. juga setiap buku), plus memahami bahasa apa yang belum masuk koleksi. Misalnya, rumpun Uralo-Siberia yang sebelumnya berisi bahasa Finlandia dan Hungaria; lalu bertambah dengan bahasa-bahasa sekitar Karelia, Estonia, dan Sami; kini menyebar ke bahasa-bahasa Mari, Mordvinik, Komi, Udmurt; yang akhirnya jadi secara hipotetik dapat disambungkan ke Chukchi-Koryak dan bahkan Aleut hingga Greenland — membentuk bahasa lingkar Kutub Utara. Sedikit ke selatan, rumpun bahasa Turki berisi bahasa yang kita kenal dan tidak kita kenal. Rumpun Kipchak misalnya, terdiri atas Kumik, Tatar, Bashkir, etc di Russia; lalu ke selatan ke negeri Kazakhstan, Kyrgyzstan, dan Karakalpakstan. Kazakh, ada di rak. Kyrgyz, ada. Karakalpak?


Memang terdapat beberapa negeri yang banyak warga dunia bahkan baru sadar keberadaannya. Karakalpakstan ini satu contoh. Lokasinya di wilayah yang dulu bagian dari Khawarizmi (bukan Khorasan), yang tentu mengingatkan pada nama Muhammad Al-Khawarizmi (pencipta aljabar yang namanya diabadikan sebagai algoritma, logaritma, dll). Ilmuwan Al-Biruni juga berasal dari kawasan ini. Wilayah ini sempat diduduki Kekaisaran Mongol yang wilayahnya multibenua itu. Saat Kekaisaran Mongol terpecah, kawasan ini menjadi batas dari pecahan Golden Horde dan Kekaisaran Timur (di timur). Berabad berlalu, wilayah ini menjadi batas budaya Kipchak dan Karluk. Revolusi Bolshevik nun jauh di utara menyebar cepat ke wilayah ini. Kawasan ini menjadi bagian dari Uni Soviet. Terbentuk Turkmen SSR, Kazakh SSR, Uzbek SSR, dan Karakalpak ASSR. Karakalpak ASSR mula-mula ditempatkan di dalam Kazakh SSR, kemudian masuk ke Russia SFSR, dan terakhir ke Uzbek SSR. Saat Uni Soviet bubar, Uzbekistan menjadi republik yang berdaulat. Karakalpakstan (Қарақалпақстан) pun menjadi sebuah republik yang memiliki kedaulatan di dalam negeri, beribu kota di Nukus (Нүкіс / Нөкис). Wilayah Karakalpakstan berada di bagian barat Uzbekistan, termasuk di kawasan Danau Aral.

Penasaran dengan negara ini, aku eksplorasi ke beberapa komunitas online. Salah satunya adalah di sebuah Telegram Group, tempat sekumpulan anak muda Karakalpak berdiskusi seru dengan bahasa mereka. Menariknya, mereka menggunakan aksara campuran antara latin dan cyrillic. Sama sekali tak paham bahasa mereka, aku coba search beberapa kata kunci. Tampak anak muda bernama Moldir Purkhanova menulis panjang tentang Кишкене Шаҳзада (Kishkene Shahzada, bahasa Karakalpak untuk Pangeran Kecil). Khawatir kurang pas berbincang di group dengan bahasa Inggris, aku kontak Moldir via jalur pribadi.

Moldir ini typical anak muda yang cerdas, baik hati, dan curious. Dia memverifikasi dulu, gerangan apakah ada orang asing dari negara entah di mana mendadak menghubungi dan menanyakan perihal buku yang random nian. Tapi dia segera sadar bahwa ini misi menarik. Jadi dia ajak rekannya, Jetes Dawletbaev, untuk membantuku mencari Kishkene Shahzada. Moldir & Jetes mencari ke toko-toko buku di Nukus, tapi buku itu tak mudah ditemukan. Mereka pantang menyerah. Dari salah satu toko buku, mereka mendapati kontak penerjemahnya: Gulnara Ibragimova. Maka datanglah mereka ke rumah Gulnara. Gulnara pun sangat baik hati. Dia bersedia memberikan dua buku: satu dalam aksara latin, dan satu dalam aksara cyrillic. Moldir & Jetes mengirim dua buku ini ke Indonesia, yang telah ditandatangani Gulnara; ditambahi dengan kamus Karakalpak, satu kopiah Karakalpak, dan foto mereka berdua.

Jetes dan Moldir

Aku terima buku ajaib ini sekitar bulan September lalu. Dan aku kirim fotoku bawa buku ini sebagai tanda terima dan tanda terima kasih ke mereka. BTW, bahasa Karakalpak untuk terima kasih adalah Rahmat (yang kalau diterjemahkan sebagai bahasa Arab ke Indonesia, tentu artinya adalah: Kasih). Mirip orang Indonesia, kan? Kasih yaaaa. Komunikasi dengan Moldir sangat mudah, karena ia sangat cerdas dan pandai berbahasa asing — sebagai mahasiswi jurusan bahasa di NMPI. Dan bicara tentang bahasa, Karakalpak berarti topi hitam. Ingat topi karakul yang aku beli beberapa tahun lalu.

Foto Jetes & Moldir dipegang Koen

Jetes adalah mahasiswa jurusan hukum, dan ia sangat mencintai negeri dan budaya Karakalpak. Jadi ia bangga karena ada orang asing mau bersusah payah mencari buku dalam bahasa Karakalpak. Fotoku dipasangnya di Telegram Group.

This image has an empty alt attribute; its file name is image.png
Foto Koen di acara Zakovat

Sebagai efeknya, aku dapat kawan baru lagi. Svetlana Jalmenova mengirimkan fotoku ke acara TV Zakovat yang dia sebut sebagai intellectual game, dan dipilih sebagai best question. Sekumpulan peserta melihat fotoku berpeci hitam dan harus menebak apa yang terjadi. Jawaban mereka cukup mendekati benar. Versi terjemahan Svetlana, mereka sempat menyebut: Kun-zorro mencari penerjemah buku itu, dan mengunjungi museum, karena ada fotonya, dll dll. Namun kesimpulan akhir mereka: Kun-zorro suka mengumpulkan berbagai terjemahan asing, dan mengumpulan buku ini, dan mendapatkan buku dengan tanda tangan penerjemah. Luar biasa, dan mereka dapat hadiah.

Gulnara Ibragimova

Efek lain, Gulnara pun diinterview TV setempat. Dan dalam interview ini, dia ajak juga Jetes dan Moldir untuk turut diinterview menceritakan pengalamannya berinteraksi dengan orang yang berusaha menyelami bahasa dan budaya mereka.

Moldir Purkhanova

Itu hal yang sangat esensial sebagai bagian dari mengkoleksi buku Pangeran Kecil. Saat ke Lausanne, aku diantar jalan Jean-Marc Probst keliling Danau Geneva. Kita berbincang jauh tentang berbagai budaya serta bagaimana perbedaan budaya diinteraksikan. Mendalami hal-hal semacam ini menjadi keniscayaan saat kita mengenali keunikan berbagai budaya; dan membuat kita makin mencintai kemanusiaan secara universal.