Karakalpakstan (Қарақалпақстан)

Menariknya mengkoleksi hampir 400 buku Pangeran Kecil dalam berbagai bahasa adalah bahwa kita jadi punya sekian ratus bahasa dalam satu rak buku yang kian mirip menara babel. Mengkatalogkannya pun memerlukan dua web: LEPETITPRINCE.ID dalam bentuk peta negara, dan PANGERANKECIL.COM dalam taksonomi rumpun bahasa.

Site lepetitprince.id

Di web kedua ini, bahasa disenaraikan secara luwes: mengikuti hasil riset berbagai linguist yang tentu masih sering beda pendapat, hingga mengikuti kemudahan penyusunan nan pragmatis nian. Hikmah dari penyusunan model rumpun bahasa ini: kita lebih memahami posisi dan keunikan setiap bahasa (i.e. juga setiap buku), plus memahami bahasa apa yang belum masuk koleksi. Misalnya, rumpun Uralo-Siberia yang sebelumnya berisi bahasa Finlandia dan Hungaria; lalu bertambah dengan bahasa-bahasa sekitar Karelia, Estonia, dan Sami; kini menyebar ke bahasa-bahasa Mari, Mordvinik, Komi, Udmurt; yang akhirnya jadi secara hipotetik dapat disambungkan ke Chukchi-Koryak dan bahkan Aleut hingga Greenland — membentuk bahasa lingkar Kutub Utara. Sedikit ke selatan, rumpun bahasa Turki berisi bahasa yang kita kenal dan tidak kita kenal. Rumpun Kipchak misalnya, terdiri atas Kumik, Tatar, Bashkir, etc di Russia; lalu ke selatan ke negeri Kazakhstan, Kyrgyzstan, dan Karakalpakstan. Kazakh, ada di rak. Kyrgyz, ada. Karakalpak?


Memang terdapat beberapa negeri yang banyak warga dunia bahkan baru sadar keberadaannya. Karakalpakstan ini satu contoh. Lokasinya di wilayah yang dulu bagian dari Khawarizmi (bukan Khorasan), yang tentu mengingatkan pada nama Muhammad Al-Khawarizmi (pencipta aljabar yang namanya diabadikan sebagai algoritma, logaritma, dll). Ilmuwan Al-Biruni juga berasal dari kawasan ini. Wilayah ini sempat diduduki Kekaisaran Mongol yang wilayahnya multibenua itu. Saat Kekaisaran Mongol terpecah, kawasan ini menjadi batas dari pecahan Golden Horde dan Kekaisaran Timur (di timur). Berabad berlalu, wilayah ini menjadi batas budaya Kipchak dan Karluk. Revolusi Bolshevik nun jauh di utara menyebar cepat ke wilayah ini. Kawasan ini menjadi bagian dari Uni Soviet. Terbentuk Turkmen SSR, Kazakh SSR, Uzbek SSR, dan Karakalpak ASSR. Karakalpak ASSR mula-mula ditempatkan di dalam Kazakh SSR, kemudian masuk ke Russia SFSR, dan terakhir ke Uzbek SSR. Saat Uni Soviet bubar, Uzbekistan menjadi republik yang berdaulat. Karakalpakstan (Қарақалпақстан) pun menjadi sebuah republik yang memiliki kedaulatan di dalam negeri, beribu kota di Nukus (Нүкіс / Нөкис). Wilayah Karakalpakstan berada di bagian barat Uzbekistan, termasuk di kawasan Danau Aral.

Penasaran dengan negara ini, aku eksplorasi ke beberapa komunitas online. Salah satunya adalah di sebuah Telegram Group, tempat sekumpulan anak muda Karakalpak berdiskusi seru dengan bahasa mereka. Menariknya, mereka menggunakan aksara campuran antara latin dan cyrillic. Sama sekali tak paham bahasa mereka, aku coba search beberapa kata kunci. Tampak anak muda bernama Moldir Purkhanova menulis panjang tentang Кишкене Шаҳзада (Kishkene Shahzada, bahasa Karakalpak untuk Pangeran Kecil). Khawatir kurang pas berbincang di group dengan bahasa Inggris, aku kontak Moldir via jalur pribadi.

Moldir ini typical anak muda yang cerdas, baik hati, dan curious. Dia memverifikasi dulu, gerangan apakah ada orang asing dari negara entah di mana mendadak menghubungi dan menanyakan perihal buku yang random nian. Tapi dia segera sadar bahwa ini misi menarik. Jadi dia ajak rekannya, Jetes Dawletbaev, untuk membantuku mencari Kishkene Shahzada. Moldir & Jetes mencari ke toko-toko buku di Nukus, tapi buku itu tak mudah ditemukan. Mereka pantang menyerah. Dari salah satu toko buku, mereka mendapati kontak penerjemahnya: Gulnara Ibragimova. Maka datanglah mereka ke rumah Gulnara. Gulnara pun sangat baik hati. Dia bersedia memberikan dua buku: satu dalam aksara latin, dan satu dalam aksara cyrillic. Moldir & Jetes mengirim dua buku ini ke Indonesia, yang telah ditandatangani Gulnara; ditambahi dengan kamus Karakalpak, satu kopiah Karakalpak, dan foto mereka berdua.

Jetes dan Moldir

Aku terima buku ajaib ini sekitar bulan September lalu. Dan aku kirim fotoku bawa buku ini sebagai tanda terima dan tanda terima kasih ke mereka. BTW, bahasa Karakalpak untuk terima kasih adalah Rahmat (yang kalau diterjemahkan sebagai bahasa Arab ke Indonesia, tentu artinya adalah: Kasih). Mirip orang Indonesia, kan? Kasih yaaaa. Komunikasi dengan Moldir sangat mudah, karena ia sangat cerdas dan pandai berbahasa asing — sebagai mahasiswi jurusan bahasa di NMPI. Dan bicara tentang bahasa, Karakalpak berarti topi hitam. Ingat topi karakul yang aku beli beberapa tahun lalu.

Foto Jetes & Moldir dipegang Koen

Jetes adalah mahasiswa jurusan hukum, dan ia sangat mencintai negeri dan budaya Karakalpak. Jadi ia bangga karena ada orang asing mau bersusah payah mencari buku dalam bahasa Karakalpak. Fotoku dipasangnya di Telegram Group.

This image has an empty alt attribute; its file name is image.png
Foto Koen di acara Zakovat

Sebagai efeknya, aku dapat kawan baru lagi. Svetlana Jalmenova mengirimkan fotoku ke acara TV Zakovat yang dia sebut sebagai intellectual game, dan dipilih sebagai best question. Sekumpulan peserta melihat fotoku berpeci hitam dan harus menebak apa yang terjadi. Jawaban mereka cukup mendekati benar. Versi terjemahan Svetlana, mereka sempat menyebut: Kun-zorro mencari penerjemah buku itu, dan mengunjungi museum, karena ada fotonya, dll dll. Namun kesimpulan akhir mereka: Kun-zorro suka mengumpulkan berbagai terjemahan asing, dan mengumpulan buku ini, dan mendapatkan buku dengan tanda tangan penerjemah. Luar biasa, dan mereka dapat hadiah.

Gulnara Ibragimova

Efek lain, Gulnara pun diinterview TV setempat. Dan dalam interview ini, dia ajak juga Jetes dan Moldir untuk turut diinterview menceritakan pengalamannya berinteraksi dengan orang yang berusaha menyelami bahasa dan budaya mereka.

Moldir Purkhanova

Itu hal yang sangat esensial sebagai bagian dari mengkoleksi buku Pangeran Kecil. Saat ke Lausanne, aku diantar jalan Jean-Marc Probst keliling Danau Geneva. Kita berbincang jauh tentang berbagai budaya serta bagaimana perbedaan budaya diinteraksikan. Mendalami hal-hal semacam ini menjadi keniscayaan saat kita mengenali keunikan berbagai budaya; dan membuat kita makin mencintai kemanusiaan secara universal.

Impermanence is The New Black

Memang gak seru punya blog berusia lebih dari 2 windu: khawatir tema yang sama ditulis berulang. Tapi sesekali OK lah. Ini dari entry tahun 2002: Impermanence, menampilkan culikan kisah dari Calvin & Hobbes :).

impermanence-1

Twitter dinyatakan stagnan, padahal aplikasi ini masih jadi de facto utility for publicized opinion & information. Tapi jutaan user baru lebih memilih Snapchat, yang ditampilkan hanya kepada user yang terbatas. Atau Instagram, yang tidak seleluasa Twitter. Plus kini ada Instagram Story yang tampaknya justru lebih sering diupdate daripada simpanan foto-foto keren di Instagram.

Banyak yang merasa kurang nyaman: Kenapa sih mereka lebih suka pakai Snapchat? Kenapa ide & kenangan ditampilkan cuma sekejab, lalu dibiarkan hilang? Bahkan dengan interaksi yang minimal. Kemana mereka akan lihat lagi kenangan-kenangan & ide-ide yang pernah membakar?

Tapi, Twitter pun pernah mengalami masa serupa. Ide dan interaksi macam apa yang bisa dieksplorasi dalam 140 kata? Komunikasi dangkal, informasi tak jelas validitas-nya, interaksi yang meleset dari konteks. Tentu. Tapi bukankah itu juga yang seharusnya bikin kita lebih arif. Arif memahami bahwa memang begitulah sebenarnya cara manusia berkomunikasi: penuh dengan pelesetan makna, misinformasi, letupan emosi, dan memerlukan kearifan yang berkembang (menjadi so-called kedewasaan). Juga, sebagai akibatnya, membuat kita juga arif mengelola komunikasi dalam media yang akhirnya kita sadari keterbatasnnya.

Jadi tidak relevan lagi celetukan: Kenapa tweeting, bukan blogging? Kenapa menulis blog, bukan artikel serius? Kenapa bekutat di artikel, bukan buku? Kenapa menerbitkan buku, bukan paper di jurnal ilmiah? Dan seterusnya. Dunia makin memaksa kita arif dengan media yang terbatas: ruang & waktu untuk membaca, ruang & waktu untuk menulis, ruang & waktu untuk berfikir.

Impermanence is the new black. Sudah bukan zamannya lagi untuk memaparkan informasi dan gagasan melalui media yang panjang dan permanen. Menulis rangkaian kata formal berbulan bulan untuk dibaca dalam waktu berhari-hari — sementara paradigma berubah setiap saat, dan waktu hidup kita serasa makin pendek — sudah mulai tak masuk akal. Di dunia ini, kita membiasakan diri untuk memanfaatkan media yang pendek, singkat, dan tak tersimpan, untuk membagikan kearifan kita. Di dunia yang sama, kita membiasakan diri untuk tak mensakralkan lagi gagasan kita, dan menganggapnya juga bagian impermanent dari diri kita. Dan tentu ini dunia egaliter, dimana tidak layak lagi menganggap influencing itu penting. Yang terjadi hanya saling merasakan denyut dinamika hidup, dan saling bergerak dalam irama tak sinkron, dan dengan demikian justru membentuk ruang hidup manusiawi yang makin berkualitas.

impermanence-2

Diri kita juga fana. Mirip si mawar dalam kisah si Pangeran Kecil. Tapi itu bukan tragedi. Justru di sanalah sisi perayaan makna kehidupan kita. Haha. Lupakan. Hiduplah.

Das Rheingold

Returning in the afternoon, I stretched myself, dead tired, on a hard couch, awaiting the long-desired hour of sleep.

It did not come; but I fell into a kind of somnolent state, in which I suddenly felt as though I were sinking in swiftly flowing water. The rushing sound formed itself in my brain into a musical sound, the chord of E flat major, which continually re-echoed in broken forms; these broken chords seemed to be melodic passages of increasing motion, yet the pure triad of E flat major never changed, but seemed by its continuance to impart infinite significance to the element in which I was sinking.

I awoke in sudden terror from my doze, feeling as though the waves were rushing high above my head. I at once recognised that the orchestral overture to the Rheingold, which must long have lain latent within me, though it had been unable to find definite form, had at last been revealed to me.

I then quickly realised my own nature: the stream of life was not to flow to me from without, but from within.

– Richard Wagner:  22 May 1813 – 13 February 1883